Ngawiku, Desaku ..

oleh : Robit Mikrojul Huda (@RobitMH )

Matahari pelan-pelan terbit
Hiruk pikuk desaku sudah mulai terasa
Suara burung-burungpun berkicau
Embun yang indah menyerbu dedaunan

Para petani berangkat ke sawah membawa cangkul serta sebungkus nasi dan air di dalam botol
Menambah keriuhan desa ini
Anak sekolah beramai-ramai berangkat sekolah
Ada yang jalan kaki,ada juga yang naik sepeda

Dingin desa ini,
Menyegarkan kehidupan rakyatnya
Aku tersenyum melihat nikmatnya hidup di sini
Udara bersih, polusipun hampir tak ada

Alami sekali,
Waktu tiba di siang hari
Tidak terlalu panas di sini, karna udaranya yang segar
Pepohonan yang rimbun nan hijau

Senja mulai datang,
Suara adzan terdengar di kuping ini
Anak-anak berlarian menuju masjid
Masjid yang tidak terlalu besar itu

Gelap menghinggapi, lampu di desa ini banyak yang mati
Jalanan terlihat gelap, karena jarang ada lampu
Kelihatan mencekam kalau malam desaku ini
Suasana desa yang ramai kalau malam berubah menjadi sepi

Bukan berarti desaku ini menakutkan
Terdapat irama yang merdu di kesepian itu
Ketika hujan datang, suara tetesannya merdu sekali
Katakpun ikut  bernyanyi
Alami dan indah desaku ini
Alangkah damainya hidup di sini
Jangan sampai kelak hanya menjadi dongeng buat anak cucu kita.

Ngawi, Desember 2012

SEPOTONG CERITA DARI ALAS KETONGGO

oleh : Umi Rosyidah (@yum_mey)

ejtcom_ketonggo1

Wilayah Kabupaten Ngawi sebenarnya kaya akan potensi tempat wisata yang bisa diperdayakan. Satu di antaranya adalah Alas Ketonggo. Tempat ini adalah hutan dengan luas 4.846 meter persegi, yang terletak 12 KM arah selatan dari Kota Ngawi, Jawa Timur. Menurut masyarakat Jawa, Alas Ketonggo ini merupakan salah satu dari alas angker atau ‘wingit’ di tanah Jawa. Kepercayaanya, di tempat ini terdapat kerajaan makhluk halus. Sedangkan satu hutan lainnya yang juga dianggap angker adalah Alas Purwa yang terletak di Banyuwangi, Jawa Timur. Alas Purwa disebut sebagai Bapak, sedangkan Alas Ketonggo disebut sebagai Ibu. Kawasan Alas Ketonggo mempunyai tempat pertapaan, di antaranya Palenggahan Agung Srigati.

Eyang Srigati adalah Priyagung, seorang begawan dari Benua Hindia yang datang ketanah jawa. Beliaulah yang menurunkan Kerajaan-kerajaan di Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua kisah Spiritual tertuang di Punden Srigati yang terdapat di desa Babatan kec. Paron. Kab. Ngawi.

Hutan Ketonggo, demikian sebutan masyarakat Ngawi untuk hutan yang terletak 12 kilometer arah selatan Kota Ngawi itu. Meski sebetulnya sama dengan hutan-hutan lainnya, namun Ketonggo lebih kesohor dibanding hutan-hutan lain di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Apa yang membuat Ketonggo termasyhur? Sampai-sampai kesebelasan perserikatan Ngawi yakni Persatuan Sepak Bola Ngawi (Persinga), dijuluki “Laskar Ketonggo”?

Lokasi Pesanggrahan Srigati yang terletak 12 km arah barat daya Kota Ngawi, tepatnya di Desa Babadan Kecamatan Paron, dapat ditempuh dengan berbagai macam kendaraan bermotor. Pesanggrahan Srigati merupakan obyek wisata spiritual yang menurut penduduk setempat adalah pusat keraton lelembut / makhluk halus. Dilokasi ini terdapat petilasan Raja Brawijaya. Pada hari-hari tertentu seperti Jum’at Pon dan Jum’at Legi  pada bulan Syuro, Pesanggrahan Srigati banyak dikunjungi oleh para pesiarah untuk menyaksikan diselenggarakannya upacara ritual tahunan “Ganti Langse” sekaligus melaksanakan tirakatan / semedi untuk ngalap berkah.

Orbitasi :

  1. Dengan ruas jalan Kabupaten Kecamatan Paron 6 Km
  2. Dengan ruas jalan Provinsi Km 6 ( Ngawi – Solo )
  3. Dengan Kota Ngawi 12 Km

Terdapat legenda seputar keberadaan alas Ketonggo. Konon tempat ini dulunya adalah tempat peristirahatan Prabu Brawijaya V setelah lari dari kerajaan Majapahit karena kerajaan diserbu oleh bala tentara Demak dibawah pimpinan Raden Patah.

Dikisahkan, ditempat itulah dalam perjalananya ke Gunung Lawu, Prabu Brawijaya V melepas semua tanda kebesaran kerajaan (jubah, mahkota, dan semua benda Pusaka), namun kesemuanya raib atau mukso. Petilasan Prabu Brawijaya V ini ditemukan mantan Kepala Desa Babadan, Somo Darmojo (alm) tahun 1963 berupa gundukan tanah yang tumbuh setiap hari dan mengeras bagaikan batu karang. Kemudian tahun 1974 didatangi Gusti Dorojatun IX dari Kasunanan Surakarta yang menyatakan bahwa petilasan tersebut bagian dari sejarah Majapahit dan petilasan tersebut diberi nama Palenggahan Agung Srigati. Palenggahan Agung Srigati ini terdapat berbagai benda-benda yang secara simbolik melambangkan kebesaran Kerajaan Majapahit, baik berupa mahkota raja, tombak pusaka, gong, dan lain-lainnya.

Di dalam ruangan ini sangat pekat aroma dupa dan wangi bunga, hal yang sangat wajar kita temukan di sebuah tempat sakral. Dupa dan taburan bunga ini berasal dari para pengunjung. Mbah Marji (juru kunci) menerangkan bahwa ”Gundukan tanah tersebut biasanya terus tumbuh dan bertambah tinggi, tapi pada saat tertentu tidak tumbuh,” terangnya. Gundukan tanah tersebut bisa dipercaya dijadikan pertanda pada bumi Indonesia.

Keberadaan Pesanggrahan Srigati-sebuah obyek wisata spiritual di Ketonggo merupakan sebab utama kemasyhuran hutan seluas 4.846 meter persegi itu. Kepercayaan masyarakat yang menganggap Ketonggo sebagai pusat keraton lelembut atau makhluk halus, dikukuhkan dengan banyaknya tempat-tempat pertapaan yang mistik dan sakral. Menurut catatan, di Ketonggo terdapat lebih dari 10 tempat pertapaan. Mulai dari Pesanggrahan Agung Srigati, Pundhen Watu Dhakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul Jambe, Pundhen Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sendang Mintowiji, Kori Gapit, dan Pesanggrahan Soekarno.

Memasuki hutan Ketonggo, para tamu langsung dapat melihat Pesanggrahan Agung Srigati, berupa sebuah rumah kecil berukuran 4×3 meter. Di dalamnya terdapat gundukan tanah, yang dari hari ke hari terus tumbuh, sehingga makin lama makin banyak. Dinding rumah itu dikitari bendera panjang Merah-Putih. Khas tempat sakral, Pesanggrahan Srigati pekat dengan bau dupa. Di sekitar tanah, yang terlindung atap rumah itu, juga berserakan bunga tabur yang selalu disebarkan para tamu.

“Seperti pada saat terjadi krisis moneter 1997, sebelumnya gundukan tanah tersebut tidak tumbuh, sehingga sama sekali tidak ada gundukan yang menyembul ke permukaan,” Mbah Marji mengisahkan sebelum terjadi semburan lumpur Lapindo Sidoarjo, dan gelombang Tsunami Aceh, gundukan tanah tersebut terlihat ‘cekung’, katanya, sembari mengungkapkan bahwa tanah itu selalu dibawa tamu yang bertapa di situ, sehingga selalu berkurang sedikit demi sedikit.

Pada hari-hari tertentu, seperti Jumat Pon dan Jumat Legi, serta pada bulan Suro dalam kalender Jawa, ribuan masyarakat Jawa maupun luar Jawa mendatangi tempat ini berbondong-bondong ke pesanggrahan ini untuk merenung, tirakat dan berdo’a pada Sang Khaliq.. Pada saat-saat yang dianggap keramat itu, warga berdoa dan bertapa untuk meminta berkah. Baik itu berkah karier atau jabatan, keselamatan, kesehatan, jodoh, dan sebagainya.Seperti pengakuan Iwan (38) warga Purwokerto, Jawa Tengah. ”Saya di sini sudah 4 bulan untuk merenung dan mencari petunjuk tentang jati diri ,” tuturnya.

Tak hanya di Srigati. Beberapa lokasi sakral lain di Ketonggo, juga diyakini dapat mengantarkan mereka menuju cita-cita yang diinginkan. Misalnya, mandi di Kali Tempur Sedalem, sebuah sendang yang merupakan pertemuan dua sungai, dan sesudah itu memanjatkan doa di tugu di dekatnya, diyakini harapannya akan dapat terwujud. Adapun Pesanggrahan Soekarno, disebut demikian karena konon Presiden pertama RI Ir Soekarno pernah bertapa di tempat itu. Dikisahkan, ada seseorang tak dikenal yang pernah membawa foto Bung Karno yang sedang bertapa di tempat berdirinya Pesanggrahan Soekarno sekarang ini. Orang itu membawa foto Bung Karno bertapa tersebut, tahun 1977.

Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya sejumlah tokoh tua Ngawi menyepakati titik di mana Bung Karno bersemedi di Ketonggo itu dijadikan Pesanggrahan Soekarno. Dibanding Pesanggrahan Srigati, Pesanggrahan Soekarno terlihat lebih sederhana. Hanya ada lima tonggak yang menopang bilik kecil beratap asbes yang tanpa dinding itu. Di tengahnya ada beberapa batu.

Pesanggrahan Srigati yang masuk wilayah Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, konon adalah tempat beristirahat Prabu Brawijaya, setelah kalah perang dari Raden Patah, tahun 1293. “Sebelum berkembang menjadi pesanggrahan dengan dibangunnya rumah kecil ini pada tahun 1975, dulu gundukan tanah ini dikenal sebagai petilasan Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit,” ujar Marji.

Sebagai tempat sakral, banyak kisah-kisah unik yang terjadi di Alas Ketonggo, terutama ketika muncul perubahan situasi politik nasional. Marji mengisahkan, saat Soeharto akan lengser pada 21 Mei 1998, sebuah pohon jati di Ketonggo tiba-tiba mengering. “Kemarin-kemarin, pohon itu tumbuh seperti biasa. Waktu Pak Harto lengser, tiba-tiba mati dan mengering,” katanya.

Pada 23 hari sebelum Ny Tien Soeharto meninggal, juga ada kejadian aneh. Sebuah dahan pohon besar di Ketonggo tiba-tiba patah dan jatuh ke tanah. Padahal, waktu itu tidak ada hujan dan tidak ada angin. Peristiwa unik juga terjadi saat Megawati Soekarnoputri akan dilantik menjadi Presiden RI, 23 Juli 2001. Tiga hari sebelum pengukuhan Mega sebagai presiden, ada cahaya berwarna biru dan putih, bak lampu lentera, di atas Kali Tempur Sedalem. Berhubungan atau tidaknya tanda-tanda itu dengan tampilnya Presiden Megawati, Anda boleh percaya boleh tidak.

Beberapa cerita menarik juga dialami mereka yang bertapa di Pesanggrahan Srigati. Sekarjati, seorang perempuan yang tinggal di Jakarta, usai bertapa di Srigati, terus terbayang-bayang wajah seorang perempuan cantik berpakaian kebaya. “Katanya, sampai sekian hari terus terbayang wajah itu. Akhirnya, Mbak Sekarjati melukis wajah dalam bayangan itu,” ucap Marji lagi.

Sekarang, lukisan tersebut dipajang di ruang pengunjung Pesanggrahan Srigati. Seorang perempuan cantik mengenakan kebaya, rambutnya bergelung konde, dengan bibir yang sedang mengembangkan senyum. Kesakralan Pesanggrahan Srigati dan beberapa tempat penting di hutan Ketonggo, membuat sudah banyak orang yang meminta berkah di sana. Termasuk beberapa tokoh dan pejabat di negeri ini. Sayang memang, jalan masuk menuju Pesanggrahan Srigati yang sakral itu tidak mulus. Hanya ada jalan berbatu yang bergelombang sepanjang empat kilometer lebih. Ada baiknya, perbaikan jalan menuju pesanggrahan itu segera dilakukan. Supaya tamu-tamu dari jauh dapat merasakan nikmatnya perjalanan, sebelum mereka meminta berkah di tempat mistis itu.

Alas Srigati ataupun dikenal dengan sebutan alas Ketonggo merupakan tempat yang bersejarah menurut dari legendanya. Dengan adanya daya tarik tersendiri itulah seperti biasanya pada saat 1 Muharam atau pergantian malam bulan hijriyah selalu dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Sejak waktu mulai beranjak malam para pengunjung mulai berdatangan, mereka ada yang datang dengan cara berkelompok dan perseorangan. Terlihat dari plat nomor mobil yang dipakai pengunjung dapat dinyatakan mereka berasal mulai daerah Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya dan daerah terdekat dengan Ngawi seperti Nganjuk, Kediri dan Malang.

Acara ritual yang dilakukan para pengunjung di Alas Srigati waktunya pun bervariasi mulai tengah malam sampai waktu shubuh. Dan begitu juga tempatnya berlainan karena dilokasi Alas Srigati sendiri ada sekitar 12 lebih tempat petilasan. Seperti Punden Krepyak Syeh Dombo atau Palenggahan Agung Brawijaya, Padepokan Kori Gapit, Palenggahan Watu Dakon, Sendang Drajat, Sendang Mintowiji, Goa Sido Bagus, Sendang Suro, dan Kali Tempur. Menurut juru kunci Alas Srigati, Ki Among Jati menjelaskan secara rinci, para pengunjung yang datang di Alas Srigati biasanya mereka ingin napak tilas mengenang sejarah dimana Raja Majapahit yaitu Prabu Brawijaya V singgah terlebih dahulu di Alas Srigati untuk melepaskan baju kebesarannya sebelum melanjutkan perjalanan ritual ke puncak Gunung Lawu.

Lanjut Ki Among Jati, pengunjung di Alas Srigati tidak melakukan hal-hal yang sifatnya syirik, seperti menyembah punden segala macam. Akan tetapi para pengunjung melakukan ritual mengambil tempat Alas Srigati hanya sebagai tempat perantara untuk menyambung segala permintaan kepada Allah SWT. Seperti terlihat di Palenggahan Agung Brawijaya pengunjung sambil membakar dupa sebagai bentuk permintaan dan do’a kepada Yang Maha Kuasa. ‘’Disini pengunjung mempunyai berbagai permintaan untuk dikabulkan dari Yang Maha Kuasa, seperti minta kesehatan, keselamatan dan masih banyak lagi dan jangan dianggap di Alas Srigati ini melakukan hal-hal yang menyimpang dan untuk hari biasa yang ramai dikunjungi yaitu pada hari malam Jum’at Kliwon, Jum’at Legi dan malam Selasa Kliwon’’ jelas Ki Among Jati.

Sementara kilas balik dari sejarah ditemukannya petilasan Srigati merupakan dari jasa mantan Kepala Desa Babadan pada tahun 1963 yaitu Somo Darmodjo kemudian tahun 1974 didatangai Gusti Dorodjatun IX dari Kasunanan Surakarta dan menyatakan benar bahwa petilasan Punden Krepyak Syeh Dombo merupakan bagian dari sejarah dari Majapahit. Yang saat itu Prabu Brawijaya melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Lawu dan oleh Gusti Dorodjatun IX dinamakan dengan sebutan Srigati. Namun, dengan adanya wisata religi Alas Srigati tidak dibarengi pengembangan potensi yang ada seperti fasilitas jalan yang menuju lokasi Alas Srigati yang kondisinya sangat rusak terlihat disana-sini berlubang.

Tengah dilakukan renovasi serta pembangunan sarana dan prasarana di Alas Ketonggo. Baik sarana dan prasarana mulai di pacu pembangunannya, termasuk jalan akses serta gapura menuju Palenggahan Agung Srigati Ngawi. Meski masih dalam tahap awal pengerjaan, Alas ketonggo seluas 4,846m2 ini boleh dibilang mulai memanjakan para wisatawan yang kebanyakan berasal dari luar kota bahkan hingga luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.

Seperti pada tanggal 5 November 2011, rombongan turis dari negeri dengan maskot patung singa ini, mendatangi Palenggahan Agung Srigati guna melakukan wisata ritual yang dipimpin langsung oleh Ki Juru Kunci, Marji. lokasi Wisata Ritual alas Ketonggo atau alas Srigati ini sekitar 12 Km dari arah Kota Ngawi tepatnya masuk Dusun Brendil, Desa Babadan Kec. Paron. “Kalau jalan menuju kelokasi serta yang lainnya nanti nampak bagus, maka saya akan berkunjung ke Srigati ini setiap tahun.” Ujar warga Singapura tersebut yang diterjemahkan oleh Pramuwisata (Guide).

Seperti yang diungkap oleh Juru Kunci, Marji bahwa dengan adanya pembangunan serta pembenahan ini, nanti akan mampu menarik perhatian Wisatawan lokal maupun domestik sehingga lebih banyak lagi yang datang.

 

SUMBER :

http://enchaovi.wordpress.com/wisata/ diakses pada 5 November 2011 Pukul 21.11 WIB

http://www.heribhaskara.com/2011/07/srigati-wisata-religi-paron-ngawi.html diakses pada 5 November 2011 Pukul 20.11 WIB

http://www.lintasberita.com/Nasional/Berita-Lokal/wista-jawa-timur-srigati-ngawi-menanti-sentuhan-pemkab.ngawi diakses pada 5 November 2011 Pukul 21.00 WIB

http://www.ngawikab.go.id/home/?p=1221 diakses pada 5 November 2011 Pukul 20.33 WIB

http://www.sinarngawi.com/2010/12/srigati-paron-wisata-spiritual-yang.html diakses pada 5 November 2011 Pukul 20.01 WIB

http://www.sinarngawi.com/2011/10/wisata-spiritual-srigati-berbenah-diri.html diakses pada 5 November 2011 Pukul 20.19 WIB

 

sumber foto: http://trik-bangkit.blogspot.com/2012/07/foto-foto-alas-ketonggo-hutan-srigati.html

Air Terjun Pengantin Ngrambe Ngawi

Air_Terjun_Pengantin_Hargomulyo_Ngrambe_Ngawi 

oleh: Umi Rosyidah (@yum_mey)

Air Terjun Pengantin di Desa Hargomulyo, Ngrambe, Ngawi mulai menjadi jujukan wisatawan lokal mengisi liburan akhir pekan. Panorama indah dan hawa sejuk menjadi daya tarik warga menikmati keindahan air terjun setinggi 50 meter itu.

Pengunjung air terjun itu meningkat signifikan sejak tiga bulan terakhir. Itu setelah warga sekitar membuka akses jalan pintas, meski masih berupa tatanan tanah liat yang diberi pagar bambu sebagai pembatas. Sebelumnya memang ada larangan, karena sangat berbahaya. Dulu belum ada jalan yang mudah dilalui seperti saat ini, terang Arifin, salah seorang warga.

Jalan setapak yang harus ditempuh hanya 200 meter dari lokasi penarikan retribusi. Sedangkan pagar bambu sengaja dipasang untuk mengantisipasi pengunjung tergelincir lantaran kondisi jalan yang berkelok dan licin. Diberi pagar dari bambu untuk pegangan. Kalau habis hujan harus ada yang memandu, paparnya.

Air Terjun Pengantin terbilang objek wisata yang masih perawan. Airnya bening, nyaris tak ada sampah atau kotoran sedikit pun. Sementara, di sekelilingnya terdapat tebing-tebing curam yang ditumbuhi aneka tanaman. Indah sekali. Bisa untuk background dokumentasi,  urainya.

Sudah beberapa kali Mas Ony (wabup Ngawi) datang ke sini (Air Terjun Pengantin). Juga anggota DPR Ramadhan Pohon. Mereka mengaku tertarik untuk mengembangkannya, imbuhnya. Lanjut dia, seiring bertambahnya pengunjung, mulai banyak warga yang mendirikan warung di sepanjang jalan menuju air terjun. Mereka warga sekitar. Kalau retribusi masuk memang diperuntukan kas karang taruna, ujarnya.

Belgis, salah seorang pengunjung, mengaku kagum dengan pesona Air Terjun Pengantin. Dia pun betah berlama-lama berendam di bawah guyuran air terjun yang bening. Sudah dua jam saya dan teman-teman mandi di sini (air terjun), ujarnya.

 

AROMA PURBAKALA DAN CITA RASA BELANDA DI BUMI OREK-OREK

oleh: WInwin Faizah (@winwinfaizah)

Image

Ngawi. Mungkin nama kota ini tak banyak diketahui oleh para traveler sebagai destinasi yang menarik. Sebuah kota kecil di Jawa Timur yang sudah berumur lebih dari 6 abad ini merupakan perbatasan antara propinsi Jawa Timur dan Propinsi Jawa Tengah. Sehingga merupakan kota yang pasti dilewati oleh siapapapun yang hendak menuju Jawa Timur dari Jawa Tengah lewat jalur darat, begitupun sebaliknya.

Begitupun tentang potensi pariwisata yang kurang dikenal masyarakat luas. Padahal sesungguhnya ada beberapa tempat yang tidak hanya akan memanjakan mata pengunjung serta mengundang rasa takjub namun juga pembelajaran sejarah yang luar biasa dan penting peranannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan maupun perjuangan bangsa ini. Berikut sedikit ulasan tentang kota yang juga disebut Bumi Orek-orek sesuai dengan kesenian tradisionalnya yaitu tari Orek-orek.

Kota Tua

Nama Ngawi berasal dari kata ‘awi’ (berarti bambu) berdasarkan letaknya di pinggiran Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Kota ini pertama kali ditetapkan sebagai Order Regentschap atau sebuah kota oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 31 Agustus 1830. Tanggal ini pernah dijadikan hari jadi Ngawi namun akhirnya diralat karena dianggap tidak nasionalis dan justru memperingati kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda. Sehingga diputuskanlah tanggal 7 Juli 1358 sebagai tanggal lahirnya kota Ngawi  berdasarkan tanggal ditetapkannya Ngawi sebagai Naditirapradesa (daerah penambangan) dan daerah Swatantra oleh Raja Hayam Wuruk di masa pemerintahan Majapahit seperti terdapat dalam prasasti  Canggu tahun 1280 Saka yang diteliti oleh  MM Soekarto K. Atmodjo. Tahun ini Ngawi merayakan ulang tahunnya yang ke-654.

Selain sejarah kotanya yang panjang dan usianya yang bahkan jauh lebih tua dari ibukota Indonesia yaitu Jakarta (485), Ngawi juga menyimpan beberapa situs wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan. Selain karena keindahannya juga karena cerita seputar tempat itu sendiri yang menarik untuk disimak. Berikut dua tempat wisata sejarah di Ngawi yang luar biasa:

  1. Museum Trinil

Museum ini terletak di Ds. Kawu, Kec. Kedunggalar, sekitar 15 km dari pusat kota Ngawi. Berlokasi sekitar 4 km dari jalan raya dengan jalan perkampungan dalam kondisi aspal bagus, tempat ini sangat mudah dicapai. Pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi (mobil/motor) maupun menyewa tukang ojek di sekitar gerbang masuk Ds. Kawu.

Image

Image

Di depan museum kita akan disambut patung gajah ekstra besar. Membawa imajinasi akan benda-benda apa saja yang mungkin akan ditampilkan di dalam gedung museum.

Image

Dan benar saja, museum seluas 3 hektare ini selain menyimpan fosil manusia dan binatang purba. Beberapa diantaranya adalah fosil Pitechantropus Erectus yang ditemukan Eugene Dubois tahun 1981 juga menyimpan koleksi gading gajah sepanjang 4 meter (Stegodon Trigenochepalus) juga tanduk kerbau sepanjang 2 meter (Palaeo Karabau Horn), dll.

Di bagian barat daya museum ini sendiri terdapat monument yang didirikan oleh Eugene Dubois bertuliskan angka tahun pertama kali penemuan fosil manusia purba yaitu 1891.

         2. Benteng Pendhem (Van Den Bosch)

Benteng yang dibangun pemerintahan Hindia Belanda dengan nama Font Van Den Bosch antara tahun 1839 sampai 1845 ini terletak di kelurahan Pelem, Kec. Ngawi. Sangat mudah dijangkau karena lokasinya yang dekat dengan pusat kota. Dari terminal bus Kertonegoro Ngawi bisa dicapai dengan naik angkot segala jurusan sampai terminal angkot Pasar Besar Ngawi kemudian dilanjutkan dengan becak ataupun ojek.

Image

Situs yang baru saja dibuka untuk umum setahun lalu setelah 45 tahun ditutup karena dijadikan tempat gudang persenjataan ini memiliki arsitektur khas kastil Eropa. Memanjakan siapapun yang berkunjung dengan suasana khas seolah-olah sedang berada di benua Eropa.

Image

Keindahan dan keeksotisannya ini pula yang menjadikan tempat ini terkenal tidak hanya sebagai tempat wisata sejarah namun juga banyak digunakan untuk sesi foto pra wedding.

Itulah dua dari beberapa tempat wisata di Ngawi yang menarik untuk dikunjungi dan disimak sejarahnya. Sebuah kota kecil yang sangat strategis dan mudah dijangkau dengan situs-situs sejarah penuh kisah. Mulai dari museum yang menyimpan koleksi fosil-fosil purbakala dari jutaan tahun yang lalu sampai bangunan benteng yang berdiri anggun memberi ‘rasa Belanda’ di tengah-tengah kota. Wajib masuk daftar travelling selanjutnya nih!

NB:

1. Tulisan ini pernh diikutkan dalam event#TravelAsyik dari http://anakasyik.com

2. Sumber foto adalah hasil koleksi pribadi penulis, artikel asli bisa diakses di http://www.winwinfaizah.wordpress.com

ini Ngawi kita .. :)

Hola!

Beberapa meter dari tugu kartonyono di pusat kota Ngawi, akhirnya saya bisa membuat blog ini. Tepat tanggal 12-12-12 seperti kesepakatan dengan beberapa kawan Twitter tadi pagi. Ya, akhirnya @Ngawiku punya blog. yeay!

 

Jadi apa yang akan dilakukan dengan blog ini?

well, saya akan menjadi penampung dan editor naskah dari para kontributor naskah. Naskah yang dikirim boleh berupa apapun asalkan temanya adalah Ngawi. Boleh berbentuk fiksi maupun non-fiksi, panjang tulisan bebas dan lebih bagus jika disertai foto ya. Jangan lupa biodata penulis (at least nama dan akun jejaring sosial).

 

Terus naskahnya dikirim kemana? silakan teman-teman kirim ke tentang.Ngawi@gmail.com ya. Saya tunggu🙂

 

salam hangat,

admin @Ngawiku